broken heart

Hari ini aku menangis lagi…

Bukan hal aneh kalau kita nangis bukan? Tapi menjadi suatu hal yang sangat menyakitkan ketika kita tau orang yang kita sayang itu membuang kita segampang dia nge-remove facebook kita. Kita ga bakal tau gimana rasa sakitnya sebelum kita ngalamin kehilangan dia.

Dan aku pernah kehilangan dia

Seolah satu kali belum cukup aja. Aku ngerasain berkali-kali. Pertama pas ibunya dengan terang-terangan nolak keberadaan aku yang dia pikir aku cm cewe jalang. Saat itu aku hancur. Lebur. Ibarat kata aku jatuh, aku ada di pusat bumi mungkin. Intinya ga ada yang bisa aku lakuin selain meratap dan meratap. Hebatnya berat badanku yang tak pernah menurun sejak lahir, tau-tau aku sudah kehilangan 10 kg. Dan semua itu karena ibundanya. Lalu menyusul orangtua gue sendiri yang abis-abisan marahin gue soal dia. Karena menurut mereka, buat apa nangisin orang yang udah nginjek-nginjek gue. Ga seharusnya gue ngarepin restu dr ibundanya yang ga percaya sama gue. Aku nurutin semuanya. Aku menangis hanya disaat aku memerlukannya. Ketika dia mulai berbohong padaku. Ketika dia mengacuhkan hadirku. Ketika dia memilih teman-temannya. Ketika dia yang kupikir memilih princess.

Lalu aku kehilangan dia lagi

Saat aku beranjak dewasa, disaat kita mampu dengan baik saling menghargai dan memahami, gelombang kehidupan memisahkan kita. Dia wajib ke Bandung, tempatnya menuntut ilmu. Tempat dia harus mengarungi keilmuan berikutnya. Sedangkan aku masih terlunta-lunta tanpa harapan pasti dimana aku berada. Yang ku incarpun hanyalah di Bintaro yang masih sangat jauh jaraknya. Aku mencoba bersabar dan menerima semua itu. Memang bukan jalanku mungkin. Masih sangat ku ingat tiap detailnya beberapa hari sebelum dia berangkat kesana. Dia datang padaku, memeluk tubuh ini dengan sangat erat sehingga yang kurasakan adalah ketulusan hatinya dan hangatnya rasa diantara kita. Dia mencium keningku. Dia memegang tanganku seolah dengan begitu aku akan terbawa olehnya selamanya, sampai akhir hayat kita nanti.

Dan lagi lagi aku kehilangan dia

Ajaib dan surprise banget aku mampu menginjakan kaki ini di Bandung. Tempat yang sama dengan dirinya. Aku akan masuk sekolah pariwisata, keilmuan baru yang akan merilekskan otakku. Memikirkan bagaimana pariwisata Indonesia. Membuatku sangat senang dan nyaman. Tanpa fisika. Tanpa rumus-rumus. Bukan aku bosan. Tapi itu terlalu pasti. Hanya punya satu jawaban sedang yang lainnya salah. Aku, aku hanya seorang manusia yang sangat suka berspekulatif. Aku pantas di pariwisata yang bermain prediksi, yang menerka-nerka. Hal ini berarti aku satu kota dengannya. Namun syarat aku berada disini adalah aku tidak boleh mengontaknya. Berat sekali rasanya. Sesak sekali merasakannya. Inilah perjuangan aku untuk bersembunyi darinya. Lalu, voilaaa, kampus nan kejam ini tidak ngijinin bawa HP selama 4 hari. Oh God, pasti tersiksa banget. Itulah awal keretakan yang ada dikisah aku dan dia.

Maka aku kehilangan dia kesekian kali. . .

Kenapa aku begitu mudahnya dijauhkan darinya –dari dia yang aku sayang? Mungkin memang kita tidak sejalan. Lantas kenapa aku ada di Bandung bersamanya? Mengapa aku masih dapat menemuinya? Mendapatkan kembali kontak dengannya? Berjalan lagi dengannya. Dan senyumku ada lagi karenanya. Bersamanya terasa lengkap sudah hidupku. Tak peduli jarak kami dari ujung ke ujung. Tak peduli bahwa aku punya berbagai kegiatan. Aku hanya peduli padanya. Aku hanya fokus ke arahnya. Itulah yang menyebabkan kehilangan ini. Karena dia tidak bersamaku. Dia tidak mengerti sepenuhnya. Dia menyimpan segala sesuatunya sendiri, lantas untuk apa aku berada disampingnya. Aku merasa tak ada keperluan aku lagi dengannya. Dan tadaaa, dia melepaskan aku , membuang segala hal tentangku, mendiamkan aku dengan sikap judesnya. Aku? Aku menangis sepanjang detik menyesali perbuatanku. Menyesali keputusanku yang terlalu cepat karena aku mati tanpanya. Aku bukanlah apa-apa tanpa dirinya. Tak ada lagi tangisnya untuk menahanku disisinya. Akulah satu-satunya yang menginginkannya. Dia lelah, aku menyerah.

Akhirnya lebih baik aku menyiapkan diri untuk kehilangannya

Sekarang semua itu berulang kembali. Akibat senyumku pada kawan-kawan yang sudah mempersiapkan segala surprise’a untukku. Tapi dibayangannya, aku membuang dirinya. Mau maki-maki rasanya. Hanya saja untuk apa memakinya? Apakah dia mengerti betapa perjuangannya diri ini mempertahankan dia. Dia mengertikah bila ku bilang aku menelan pil pahit seorang diri karena tidak ingin dia terluka terbebani. Aku mempertanyakan dirinya, apa ada sedikit simpati atau empatinya melihat keadaanku. Bukankah dia tahu aku sama dengannya yang punya masalah yang harus diprioritaskan selain frame senyum kepalsuan itu? Jika memang dia percaya topeng itu, silakan menjauh sesukamu. Aku hanya ingin orang yang kusayang percaya padaku. Dan kalau yang terjadi sebaliknya, mungkin aman untuk hatiku bila melihatmu dari kejauhan saja. Jika berdekatan akan sangat menguras hati dan tenaga karena hubungan dua insan itu sejatinya atas dasar cinta, percaya dan terbuka.

Aku sudah mempersiapkan diri. Menyediakan stok airmata secukupnya. Menguatkan hati setegar-tegarnya. Dan menyimpang barang-barangnya. Mengenang kejadian bersamanya. Tanpa harus menoleh kebelakang kembali. Aku akan merelakan dia pergi jauh dari hidupku. Dan aku akan melanjutkan impianku serta hidupku yang mungkin telah mati. Tapi aku bisa. Aku hanya perlu mempersiapkan semuanya.

Maaf dan terimakasih atas kebaikanmu untuk mencintaiku

Aku bukanlah makhluk sempurna yang ada dihidupmu, tapi kisah kita sudah sangat menyempurnakan hidupku. Sayang sekali, jalanku bukan jalanmu. Dan kini kau meninggalkan aku. Aku mengikuti saranmu, melanjutkan hidupku… Semoga disana kau mendapatkan yang kau inginkan, kau impikan, kau harapkan

Love you aijin, just want you to know…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: